Gedung agung Yogyakarta (istana kepresidenan di Yogyakarta)
Tashadi, Tashadi; Soekiman, Djoko; Poliman, Poliman; Albiladiyah, S. Ilmi
Sejarah suatu gedung atau bangunan rumah tinggal pada
hakekatnya mempunyai kaitan erat sekali dengan para penghuninya. Dengan kata lain bangunan tidak dapat terlepas dari peranan para penghuninya, lebih-lebih gedung atau bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sejarah suatu gedung atau bangunan tidak akan mempunyai "arti" atau "makna" apabila hanya bercerita tentang kapan gedung itu dibangun, kapan pembangunannya selesai, siapa arsiteknya dan berapa biaya pembangunannya. Gedung atau bangunan itu akan lebih
berarti dan bermakna apabila sejarahnya dikaitkan dengan para penghuni atau yang pernah menghuninya; artinya, di samping diceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan gedung tersebut, diceritakan pula tentang apa dan bagaimana peranan para penghuni atau yang pernah menghuni serta orang orang yang berhubungan erat dengan bangunan tersebut. Dengan demikian maka sejarah gedung tersebut akan membawa rentetan sejarah yang panjang.
Bertitik tolak dari pengertian ini maka penulisan sejarah
Gedung Agung atau Istana Kepresidenan di Yogyakarta tidak
terbatas pada sejarah bangunan atau gedungnya saja, tetapi juga menyangkut tentang sejarah para penghuninya walaupun dengan konstelasi dan ik.lim politik baik regional maupun nasional dari zaman ke zaman, sejak dibangunnya bangunan atau gedung itu atau bahkan jauh sebelumnya sampai dengan keadaannya sekarang. Pengungkapan tentang masa-masa sebelum gedung itu dibangun, dimaksudkan agar dapat diketahui situasi
yang melatarbelakangi dibangunnya gedung tersebut. Hal ini penting untuk diungkapkan, karena gedung yang kemudian terkenal dengan nama Gedung Agung itu memiliki sejarah yang panjang dan mempunyai peranan serta fungsi yang pentihg dalam panggung sejarah bangsa Indonesia. Banyak kejadian dan peristiwa-peristiwa penting di gedung ini. Untuk itu, dalam tulisan ini dicoba untuk mengungkapkannya secara utuh dan lengkap. Kisahnya diawali dari Perjanjian Giyanti yang terjadi
pada tanggal 13 Februari 1755 1), yang kemudian melahirkan suatu kerajaan baru yakni "Kasultanan Ngayogyakarta" (Kesultanan yogyakarta).
hakekatnya mempunyai kaitan erat sekali dengan para penghuninya. Dengan kata lain bangunan tidak dapat terlepas dari peranan para penghuninya, lebih-lebih gedung atau bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sejarah suatu gedung atau bangunan tidak akan mempunyai "arti" atau "makna" apabila hanya bercerita tentang kapan gedung itu dibangun, kapan pembangunannya selesai, siapa arsiteknya dan berapa biaya pembangunannya. Gedung atau bangunan itu akan lebih
berarti dan bermakna apabila sejarahnya dikaitkan dengan para penghuni atau yang pernah menghuninya; artinya, di samping diceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan gedung tersebut, diceritakan pula tentang apa dan bagaimana peranan para penghuni atau yang pernah menghuni serta orang orang yang berhubungan erat dengan bangunan tersebut. Dengan demikian maka sejarah gedung tersebut akan membawa rentetan sejarah yang panjang.
Bertitik tolak dari pengertian ini maka penulisan sejarah
Gedung Agung atau Istana Kepresidenan di Yogyakarta tidak
terbatas pada sejarah bangunan atau gedungnya saja, tetapi juga menyangkut tentang sejarah para penghuninya walaupun dengan konstelasi dan ik.lim politik baik regional maupun nasional dari zaman ke zaman, sejak dibangunnya bangunan atau gedung itu atau bahkan jauh sebelumnya sampai dengan keadaannya sekarang. Pengungkapan tentang masa-masa sebelum gedung itu dibangun, dimaksudkan agar dapat diketahui situasi
yang melatarbelakangi dibangunnya gedung tersebut. Hal ini penting untuk diungkapkan, karena gedung yang kemudian terkenal dengan nama Gedung Agung itu memiliki sejarah yang panjang dan mempunyai peranan serta fungsi yang pentihg dalam panggung sejarah bangsa Indonesia. Banyak kejadian dan peristiwa-peristiwa penting di gedung ini. Untuk itu, dalam tulisan ini dicoba untuk mengungkapkannya secara utuh dan lengkap. Kisahnya diawali dari Perjanjian Giyanti yang terjadi
pada tanggal 13 Februari 1755 1), yang kemudian melahirkan suatu kerajaan baru yakni "Kasultanan Ngayogyakarta" (Kesultanan yogyakarta).
Detail Information
- Publisher
- Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
- Tahun
- 1985
- Bahasa
- en
- Last Updated
- 2019-03-16T03:39:32Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah