Pemilihan bahasa Tobati-bahasa Indonesia di kalangan penutur jati bahasa Tobati
Widodo, Supriyanto; Panggabean, Novaria; S Mariati, Sitti; Suharyanto, Suharyanto
Hadirnya buku Pemilihan Bahasa Tobati-Bahasa
Indonesia di Kalangan Penutur Jati Bahasa Tobati ini
merupakan hasil penelitian bahasa yang ditulis oleh Sitti
Mariati S., Supriyanto Widodo, Suharyanto, dan Novaria
Panggabean. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan
bahwa telah terjadi pergeseran penggunaan bahasa oleh
masyarakat Tobati dan Enggoros dari bahasa Tobati ke
bahasa Indonesia. Dalam ranah keluarga misalnya,
masyarakat Tobati juga Enggros ketika berbicara dengan
ayah, ibu, dan kakaknya tentang persolan sehari-hari
sama seringnya menggunakan bahasa Tobati dan bahasa
Indonesia. Namun, ketika mereka berbicara dengan
adiknya atau kakaknya, cenderung mendekati lebih
sering menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa
Tobati. Sedangkan ketika mereka berbicara dengan anak-anak, berkecenderungan sering menggunakan bahasa
Indonesia. Kondisi dan situasi kebahasaan seperti itu
tentu sangat memprihatinkan, lebih-lebih jumlah penutur
bahasa Tobati berjumlah 617 orang. Oleh karena itu,
penelitian pemilihan bahasa sangat penting untuk dikaji
mengingat bahasa berkaitan dengan identitas. Penutur
yang sudah tidak mampu berbahasa daerahnya, tentu
kehilangan identitas kedaerahannya. Melihat rendahnya sikap masyarakat Tobati dan Enggros terhadap bahasa ibunya dapat dikatakan bahwa bahasa Tobati sudah tidak aman. Berdasarkan hasil penelitian ini Balai Bahasa Papua juga para pemangku kepentingan kebahasaan di Papua, khususnya di Kota Jayapura dapat terdorong untuk melakukan kegiatan
nyata seperti menyusun kamus, menyusun bahan ajar, menyusun ortografi bahasa Tobati, dan lain-lain.
Indonesia di Kalangan Penutur Jati Bahasa Tobati ini
merupakan hasil penelitian bahasa yang ditulis oleh Sitti
Mariati S., Supriyanto Widodo, Suharyanto, dan Novaria
Panggabean. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan
bahwa telah terjadi pergeseran penggunaan bahasa oleh
masyarakat Tobati dan Enggoros dari bahasa Tobati ke
bahasa Indonesia. Dalam ranah keluarga misalnya,
masyarakat Tobati juga Enggros ketika berbicara dengan
ayah, ibu, dan kakaknya tentang persolan sehari-hari
sama seringnya menggunakan bahasa Tobati dan bahasa
Indonesia. Namun, ketika mereka berbicara dengan
adiknya atau kakaknya, cenderung mendekati lebih
sering menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa
Tobati. Sedangkan ketika mereka berbicara dengan anak-anak, berkecenderungan sering menggunakan bahasa
Indonesia. Kondisi dan situasi kebahasaan seperti itu
tentu sangat memprihatinkan, lebih-lebih jumlah penutur
bahasa Tobati berjumlah 617 orang. Oleh karena itu,
penelitian pemilihan bahasa sangat penting untuk dikaji
mengingat bahasa berkaitan dengan identitas. Penutur
yang sudah tidak mampu berbahasa daerahnya, tentu
kehilangan identitas kedaerahannya. Melihat rendahnya sikap masyarakat Tobati dan Enggros terhadap bahasa ibunya dapat dikatakan bahwa bahasa Tobati sudah tidak aman. Berdasarkan hasil penelitian ini Balai Bahasa Papua juga para pemangku kepentingan kebahasaan di Papua, khususnya di Kota Jayapura dapat terdorong untuk melakukan kegiatan
nyata seperti menyusun kamus, menyusun bahan ajar, menyusun ortografi bahasa Tobati, dan lain-lain.
Detail Information
- Publisher
- Balai Bahasa Papua
- Tahun
- 2018
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2020-01-23T03:27:11Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah