Komik mari cintai cagar budaya
Eka, Hadiyanta
Keberadaan warisan budaya yang berwujud, baik benda, bangunan, struktur, situs, maupun kawasan cagar budaya perlu terus disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Khusus untuk para siswa pelajar diperlukan proses pengenalan sedini mungkin terutama kepada anak-anak sekolah dan pra sekolah. permasalahan yang muncul adalah bagaimana kita memperkenalkan sebagian potensi cagar budaya itu dengan menarik dan menimbulkan minat untuk mengenal, tahu, dan mampu memperbincangkan potensi itu secara luas dan berkelanjutan. Benar adanya, bahwa di dalam pepatah Bahasa Jawa ada istilah tepung, dunung, srawung dan di dalam kosa kata Bahasa Indonesia da ungkapan "tidak kenal maka tidak sayang".
Kedua pepatah itu mencoba untuk mengungkapkan bahwa di dalam menghadapi sebuah potensi cagar budaya langkah awal yang harus harus dilakukan adalah mengenalkan potensi itu terlebih dahulu (tepung) dengan berbagai cara. Di dalam memperkenalkan itu harus dilakukan dengan cara yang mudah dimengerti dan sedapat mungkin dengan menarik untuk ukuran pemula. Tolak ukurnya komunikan yang menjadi sasaran dapat senang dengan apa yang kita perkenalkan. Pada dasarnya suatu "perkenalan menjadi prasyarat untuk kita dapat lebih menyayangi" dan apabila tidak mengenal maka ada hambatan dan penghalang untuk kita menyayangi dan mencintai warisan cagar budaya itu. Perkenalan merupakan pijakan kita untuk dapat mengetahui (dunung) secara lebih jauh. untuk tahu itu dapat melalui proses pembelajaran secara verbal, visual, maupun gabungan keduanya dengan tampilan verbal-visual atau cerita bergambar seperti halnya komik. Harapannya ke depan tema-tema cagar budaya ini dapat menjadi sesuatu yang dapar diperbincangkan (srawung) ataupun menjadi bahan dialog interaktif oleh mereka. Pembicaraan itu membuktikan bahwa sasaran internalisasi sudah dapat berinteraksi secara aktif bahkan proaktif dalam konteks pelestarian cagar budaya kita.
Kedua pepatah itu mencoba untuk mengungkapkan bahwa di dalam menghadapi sebuah potensi cagar budaya langkah awal yang harus harus dilakukan adalah mengenalkan potensi itu terlebih dahulu (tepung) dengan berbagai cara. Di dalam memperkenalkan itu harus dilakukan dengan cara yang mudah dimengerti dan sedapat mungkin dengan menarik untuk ukuran pemula. Tolak ukurnya komunikan yang menjadi sasaran dapat senang dengan apa yang kita perkenalkan. Pada dasarnya suatu "perkenalan menjadi prasyarat untuk kita dapat lebih menyayangi" dan apabila tidak mengenal maka ada hambatan dan penghalang untuk kita menyayangi dan mencintai warisan cagar budaya itu. Perkenalan merupakan pijakan kita untuk dapat mengetahui (dunung) secara lebih jauh. untuk tahu itu dapat melalui proses pembelajaran secara verbal, visual, maupun gabungan keduanya dengan tampilan verbal-visual atau cerita bergambar seperti halnya komik. Harapannya ke depan tema-tema cagar budaya ini dapat menjadi sesuatu yang dapar diperbincangkan (srawung) ataupun menjadi bahan dialog interaktif oleh mereka. Pembicaraan itu membuktikan bahwa sasaran internalisasi sudah dapat berinteraksi secara aktif bahkan proaktif dalam konteks pelestarian cagar budaya kita.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta
- Tahun
- 2013
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2021-01-08T20:10:42Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah