Analisis semiotik atas lirik kantola : sastra lisan daerah Muna
Aderlepe, Aderlepe; Rohmana, Rohmana; Sukmawati, Sukmawati
Penelitian ini difokuskan pada perilaku budaya secara
kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tenggara dengan mengambil objek kantola, yaitu sastra lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna dengan cara didendangkan. Sastra lisan kantola merupakan salah satu budaya ash masyarakat Muna Sulawesi Tenggara yang saat mi eksistensinya berada di ambang kepunahan sebagai akibat kikisan budaya modern. Link syair kantola berbentuk soneta, tidak terikat oleh bentuk sajak maupun jumlah bans. Oleh karena
itu, ada yang jumlah barisnya kurang dari 10, ada juga yang lebih dari 10 bans, bahkan ada yang mencapai 15 bans. Syair-syair kantola digubah pada saat masyarakat mengapresiasinya dan isinya tergantung pada kondisi dan situasi pada saat itu. Dengan demikian, kehisanan syair-syairnya tetap terjaga. Kantola sebagai produk masyarakat lama yang sangat
kental dengan tradisi, saat mi dirasakan tidak kontekstual lagi dengan kondisi masyarakat Muna yang secara sosiologis sudah mengalami sedikit pergeseran kultural. Akibatnya, eksistensi kantola dalam masyarakat perlahan-lahan pmah sebagai dampak modernisasi. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan penyelamatan terhadap sastra hisan kantola yang pada dasarnya merupakan salah satu produk budaya ash nusantara. Berdasarkan hal ini, penulis berharap agar Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara dapat memediasi kelanjutan penelitian mi berupa inventarisãsi syair-syair kantola sebagai upaya mendokumentasikan sastra lisan yang ada di daerah Muna pada khususnya dan Sulawesi Tenggara pada umumnya.
kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tenggara dengan mengambil objek kantola, yaitu sastra lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna dengan cara didendangkan. Sastra lisan kantola merupakan salah satu budaya ash masyarakat Muna Sulawesi Tenggara yang saat mi eksistensinya berada di ambang kepunahan sebagai akibat kikisan budaya modern. Link syair kantola berbentuk soneta, tidak terikat oleh bentuk sajak maupun jumlah bans. Oleh karena
itu, ada yang jumlah barisnya kurang dari 10, ada juga yang lebih dari 10 bans, bahkan ada yang mencapai 15 bans. Syair-syair kantola digubah pada saat masyarakat mengapresiasinya dan isinya tergantung pada kondisi dan situasi pada saat itu. Dengan demikian, kehisanan syair-syairnya tetap terjaga. Kantola sebagai produk masyarakat lama yang sangat
kental dengan tradisi, saat mi dirasakan tidak kontekstual lagi dengan kondisi masyarakat Muna yang secara sosiologis sudah mengalami sedikit pergeseran kultural. Akibatnya, eksistensi kantola dalam masyarakat perlahan-lahan pmah sebagai dampak modernisasi. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan penyelamatan terhadap sastra hisan kantola yang pada dasarnya merupakan salah satu produk budaya ash nusantara. Berdasarkan hal ini, penulis berharap agar Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara dapat memediasi kelanjutan penelitian mi berupa inventarisãsi syair-syair kantola sebagai upaya mendokumentasikan sastra lisan yang ada di daerah Muna pada khususnya dan Sulawesi Tenggara pada umumnya.
Detail Information
- Publisher
- Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara
- Tahun
- 2006
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2021-09-30T03:04:50Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah