Tembikar tradisional Desa Bungo Tanjung, Kerinci
M., Risnal; Zakaria, Iskandar; Nur, Firman
Perkembangan teknologi umat manusia dalam memproduksi berbagai peralatan dan perlengkapan rumah tangga. Dari yang menggunakan bahan alumunium, seng hingga plastik, telah menggusur barang-barang yang terbuat dari tanah liat. Meskipun demikian sebagian masyarakat di berbagai daerah di nusantara ini, masih saja menggunakan tembikar atau gerabah sebagai peralatan rumah tangganya.
Berbagai alasan mereka kemukan, mengapa mereka masih menggunakan peralatan yang sudah tergusur ini. Antara lain memasak dengan tembikar rasanya jauh lebih sedap; meminum air dari wadah kendi tembikar, serasa meminum air pegunungan.
Meskipun demikian, tembikar yang dibuat dengan tangan memakai roda pemutar, apa lagi dengan tatap landas (tanpa roda pemutar) adalah merupakan pekerjaan yang cukup rumit.
Di samping itu harga jual benda-benda tembikar juga jauh lebih murah, tetap saja akan tergusur. Setidak-tidaknya para perajin akan meninggalkan pekerjaan dimaksud.
Sebagai warisan leluhur bangsa, teknologi tembikar yang telah berusia ribuan tahun, perlu kita lestarikan. . Di Desa Bungo Tanjung, Kerinci, Propinsi Jambi, teknologi pembuatan tembikar dengan cara tatap landas (tanpa roda pemutar) tetap saja bertahan sampai saat ini. Padahal keramik asing (cina), sejak awal tarikh Masehi telah sampai di daerah ini. Namun teknologi pembuatan tembikar tetap saja tidak mengalami perkembangan.
Berdasarkan pengamatan mata (tanpa alat bantu) terhadap bahan baku dan hasil tambikar sekarang, kuat dugaan bahwa fragmen tembikar yang ditemukan di sekitar Danau Kerinci dan goa-goa di kerinci, adalah hasil teknologi dan bahan baku yang sama. Tetapi perajin yang ada sekarang tidak membubuhkan hiasan pada benda kerjanya .
Berbagai alasan mereka kemukan, mengapa mereka masih menggunakan peralatan yang sudah tergusur ini. Antara lain memasak dengan tembikar rasanya jauh lebih sedap; meminum air dari wadah kendi tembikar, serasa meminum air pegunungan.
Meskipun demikian, tembikar yang dibuat dengan tangan memakai roda pemutar, apa lagi dengan tatap landas (tanpa roda pemutar) adalah merupakan pekerjaan yang cukup rumit.
Di samping itu harga jual benda-benda tembikar juga jauh lebih murah, tetap saja akan tergusur. Setidak-tidaknya para perajin akan meninggalkan pekerjaan dimaksud.
Sebagai warisan leluhur bangsa, teknologi tembikar yang telah berusia ribuan tahun, perlu kita lestarikan. . Di Desa Bungo Tanjung, Kerinci, Propinsi Jambi, teknologi pembuatan tembikar dengan cara tatap landas (tanpa roda pemutar) tetap saja bertahan sampai saat ini. Padahal keramik asing (cina), sejak awal tarikh Masehi telah sampai di daerah ini. Namun teknologi pembuatan tembikar tetap saja tidak mengalami perkembangan.
Berdasarkan pengamatan mata (tanpa alat bantu) terhadap bahan baku dan hasil tambikar sekarang, kuat dugaan bahwa fragmen tembikar yang ditemukan di sekitar Danau Kerinci dan goa-goa di kerinci, adalah hasil teknologi dan bahan baku yang sama. Tetapi perajin yang ada sekarang tidak membubuhkan hiasan pada benda kerjanya .
Detail Information
- Publisher
- Proyek Pembinaan Permuseuman Jambi
- Tahun
- 1995
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-23T01:48:09Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah