Buku panduan museum nasional gedung B
Handari, Dedeh Rufaedah Sri; Trigangga, Trigangga; Sundari, Ekowati; Ernawati, Wahyu; Dewi, Ni Luh Putu Candra
Tahun 1996- 2007 merupakan tahap-tahap pembangunan gedung baru Museum Nasional di sebelah Utara gedung lama (Gedung A). Sejalan dengan pembangunan tersebut Museum Nasional pun menyiapkan konsep pameran untuk mengisi ruang-ruang di sayap baru ini. Berbeda dengan penataan pameran di gedung lama, di Gedung Bini alur ceritanya didasarkan pada kerangka unsur-unsur kebudayaan, yang oleh Prof. Koentjaraningrat dikelompokkan menjadi tujuh isi pokok kebudayaan, meliputi: [1] Sistem Religi dan Upacara Keagamaan; [2] Sistemdan Organisasi Kemasyarakatan; [3] Sistem Pengetahuan; [4] Bahasa; [5] Kesenian; [6] Sistem Mata pencaharian Hidup; [7]. Sistem Teknologi dan Peralatan.
Setiap benda budaya karya manusia tentu menggambarkan fungsinya ke dalam unsur-unsur tersebut. Artinya, dilihat dari dimensi bentuk (form), ada koleksi yang menggambarkan sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, kesenian, dan seterusnya. Dimensi bentuk tersebut kemudian dipadukan dengan pemilahan berdasarkan dimensi waktu (time). Dimensi waktu yang dipakai bersifat makro yang kemudian dapat diurai ke dalam rincian waktu yang lebih mikro. Pembagian dimensi waktu yang bersifat makro tersebut misalnya: masa prasejarah, masa pengaruh Hindu-Buddha, masa Kolonial, dan seterusnya.
Penataan koleksi dengan konsep pemaduan antara parameter unsur budaya dalam dimensi bentuk dan ruang serta parameter dimensi waktu tersebut diharapkan lebih memperjelas gambaran kepada para pengunjung. Dengan demikian benda-benda koleksi yang dipamerkan bisa lebih banyak berbicara karena satu sama lain saling melengkapi sehingga koleksi yang dipamerkan menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak sekedar sekumpulan koleksi yang diletakkan di dalam suatu ruang.
Setiap benda budaya karya manusia tentu menggambarkan fungsinya ke dalam unsur-unsur tersebut. Artinya, dilihat dari dimensi bentuk (form), ada koleksi yang menggambarkan sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, kesenian, dan seterusnya. Dimensi bentuk tersebut kemudian dipadukan dengan pemilahan berdasarkan dimensi waktu (time). Dimensi waktu yang dipakai bersifat makro yang kemudian dapat diurai ke dalam rincian waktu yang lebih mikro. Pembagian dimensi waktu yang bersifat makro tersebut misalnya: masa prasejarah, masa pengaruh Hindu-Buddha, masa Kolonial, dan seterusnya.
Penataan koleksi dengan konsep pemaduan antara parameter unsur budaya dalam dimensi bentuk dan ruang serta parameter dimensi waktu tersebut diharapkan lebih memperjelas gambaran kepada para pengunjung. Dengan demikian benda-benda koleksi yang dipamerkan bisa lebih banyak berbicara karena satu sama lain saling melengkapi sehingga koleksi yang dipamerkan menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak sekedar sekumpulan koleksi yang diletakkan di dalam suatu ruang.
Detail Information
- Publisher
- Museum Nasional
- Tahun
- 2015
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-02T04:39:01Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah