Kebudayaan perbatasan: Melayu Kuantan Singingi
Saputra, Syahrial De
Teluk Kuantan atau yang disebut juga Rantau Kuantan ini, berada di "dua sisi kebudayaan" yakni kebudayaan Melayu dan Minangkabau. Corak kebudayaannya ini sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan sebuah difusi kebudayaan. Kebudayaan Melayu dan Minangkabau sangat mewarnai corak kebudayaan Melayu Kuantan. Dapat juga disebut kebudayaan mereka merupakan akulturasi kebudayaan dari pegunungan (Minangkabau) dengan kebudayaan pesisir (Melayu). Secara kebudayaan, pengaruh dari kebudayaan Minangkabau sangat kental terlihat, terutama dari unsur bahasa, sistem kemasyarakatan, dan juga kesenian. Sejarah perkembangan kebudayaan Kuantan juga sangat berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan pagaruyung di Minangkabau, yakni dengan kedatangan Perpatih Nan Sebatang. Munculnya perkampungan-perkampungan yang berada di pinggiran sungai Kuantan sehingga daerah ini juga disebut "Rantau Kuantan Nan Kurang Oso Duo Puluh", menceritakan perjalanan Perpatih Nan Sebatang dari Hulu Sungai Kuantan (Minangkabau) ke daerah ini. Pengaruh itu terlihat sekali kesamaan tentang garis keturunan yang berdasarkan garis keturunan ibu (matrilineal), demikian juga adat Melayu Kuantan yang berperan dalam keluarga adalah Ninik Mamak, yang semua itu tidak dikenal dalam kebudayaan Melayu. Namun demikian, mereka bukanlah orang Minangkabau, sebaliknya mereka menyebutkan orang Melayu Teluk Kuantan atau disebut "Rang Kuantan" (Orang Kuantan).
Pengaruh dari kebudayaan luar menimbulkan perubahan kebudayaan Taluk Kuantan. Terutama generasi muda Taluk Kuantan pada saat ini mulai tidak mengetahui unsur kebudayaannya. Para generasi muda apabila sudah memiliki pendidikan, pada umumnya enggan kembali ke Taluk Kuantan. Mereka bermigrasi ke kota besar seperti Pekanbaru,Jakarta, dsb. Sehingga yang tinggal di Taluk Kuantan terutama para kalangan tua.
Pengaruh dari kebudayaan luar menimbulkan perubahan kebudayaan Taluk Kuantan. Terutama generasi muda Taluk Kuantan pada saat ini mulai tidak mengetahui unsur kebudayaannya. Para generasi muda apabila sudah memiliki pendidikan, pada umumnya enggan kembali ke Taluk Kuantan. Mereka bermigrasi ke kota besar seperti Pekanbaru,Jakarta, dsb. Sehingga yang tinggal di Taluk Kuantan terutama para kalangan tua.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
- Tahun
- 2007
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-03T05:38:31Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah