Kebudayaan tradisional di Tasikmalaya
Masduki, Aam; Sucipto, Toto
Kesenian Beluk merupakan kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun dalam satu lingkungan masyarakat di Kampung Balananjeur. Kesenian Beluk pada mulanya bukan merupakan seni pertunjukan seiring dengan kemajuan pola masyarakat, maka kesenian Beluk pun mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut antara lain kesenian Beluk dijadikan sarana hiburan dalam acara-acara syukuran seperti syukuran bayi yang berusia 7 hari, syukuran bayi yang berusia 40 hari, sunatan, pernikahan, dan saat ini kesenian Beluk sering dipentaskan pada acara isra mi'raj serta maulid Nabi Muhammad SAW.
Aturan penyajian kesenian Beluk dari dahulu sampai saat ini masih dilaksanakan, misalnya dengan diawali pembukaan yang dilakukan oleh orang yang punya hajat lalu dilanjutkan oleh tokoh masyarakat setempat, selanjutnya acara doa-doa disertai pembakaran kemenyan dan dilengkapi dengan sesajen yang bertujuan untuk memohon berkah dan keselamatan dunia akhirat kepada Tuhan YME serta meminta izin kepada leluhurnya untuk mementaskan kesenian Beluk, selain itu mengundang mereka untuk hadir dalam penyajian kesenian Beluk tersebut Setelah itu barulah penyajian kesenian Beluk dimulai dengan dipimpin oleh dalang atau tukang ilo yang bertugas untuk membacakan wawacan yang akan ditembangkan oleh penembang yang lain silih berganti sampai pertunjukan selesai. Acara penutupan dalam penyajian kesenian Beluk diakhiri dengan doa dan ucapan maaf serta ucapan terima kasih kepada penonton yang telah mengikuti jalannya acara tersebut dengan tertib.
Aturan penyajian kesenian Beluk dari dahulu sampai saat ini masih dilaksanakan, misalnya dengan diawali pembukaan yang dilakukan oleh orang yang punya hajat lalu dilanjutkan oleh tokoh masyarakat setempat, selanjutnya acara doa-doa disertai pembakaran kemenyan dan dilengkapi dengan sesajen yang bertujuan untuk memohon berkah dan keselamatan dunia akhirat kepada Tuhan YME serta meminta izin kepada leluhurnya untuk mementaskan kesenian Beluk, selain itu mengundang mereka untuk hadir dalam penyajian kesenian Beluk tersebut Setelah itu barulah penyajian kesenian Beluk dimulai dengan dipimpin oleh dalang atau tukang ilo yang bertugas untuk membacakan wawacan yang akan ditembangkan oleh penembang yang lain silih berganti sampai pertunjukan selesai. Acara penutupan dalam penyajian kesenian Beluk diakhiri dengan doa dan ucapan maaf serta ucapan terima kasih kepada penonton yang telah mengikuti jalannya acara tersebut dengan tertib.
Detail Information
- Publisher
- Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
- Tahun
- 2006
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-05T02:01:11Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah